Luka
Voice note berdurasi hampir 16 menit itu berakhir, sebuah curahan hati dari sahabat lama pada masa perkuliahan. Sosok yang ceria bahkan terlampau ceria ini mengalami permasalahan yang membuatku sedih mendengarnya. Karena ceritanya kali ini menyembulkan sebuah memori milikku yang secara garis besar berasal dari rasa sakit yang serupa. Dan apa yang dialaminya bahkan jauh lebih menyakitkan.
Dulu, Ayah atau umi sering bercerita tentang kisah masa lalu, tentang kisah kehidupannya masing – masing. Ada beberapa peristiwa yang membuatku menarik sebuah kesimpulan,"Manusia takkan pernah lupa perkataan yang menyakitkan dalam hidupnya, takkan pernah walau waktu sudah berlalu lama” Dan ternyata benar terjadi padaku!
Sampai sekarang, aku tak pernah lupa kata – kata yang menyakitkan itu. Kata – kata yang sifatnya tak berwujud ternyata sebegitu hebatnya membuat luka. Luka yang bahkan kupikir sudah pulih terkadang masih terasa nyeri. Mengapa ini bisa sangat menyakitkan?
Ah... Mungkin karena luka itu di baretkan oleh orang yang katanya memiliki asal muasal darah yang sama, yang membentuk sebuah hubungan bernama "Saudara". Orang yang tadinya memberikan seutas tali pertolongan atas nama hubungan itu kemudian dijadikannya senjata untuk menyerang. Menyerang di balik punggungku tanpa sadar, menghunus orang - orang yang sangat aku cintai tanpa memberi ruang untukku mengerti dimana letak kesalahanku. Dilukai pada jiwa yang masih teramat muda, membuatku cacat untuk bertumbuh. Saat itu aku terluka... sangat!
Namun, cacat bukan berarti lemah! Setiap luka yang tercipta menuntut ketegaran dalam proses mengobati, dengan tegar itu dijadikannya lebih kuat dari sebelumnya. Kehidupan memang penuh misteri, menerima segala yang terjadi adalah rangkaian garis yang harus dilalui meskipun didalamnya ada rasa perih atau terkadang masih nyeri. Begitu sih kata bijak yang aku punya, terdengar klise namun cukup kuat untuk membuatku bertahan.
Dan aku tau betul sobatku adalah orang yang tangguh dan aku berdoa diberinya kekuatan untuk melalui masa sulit ini karena nanti pasti ada pelangi yang indah dibalik badai yang besar.
Dulu, Ayah atau umi sering bercerita tentang kisah masa lalu, tentang kisah kehidupannya masing – masing. Ada beberapa peristiwa yang membuatku menarik sebuah kesimpulan,"Manusia takkan pernah lupa perkataan yang menyakitkan dalam hidupnya, takkan pernah walau waktu sudah berlalu lama” Dan ternyata benar terjadi padaku!
Sampai sekarang, aku tak pernah lupa kata – kata yang menyakitkan itu. Kata – kata yang sifatnya tak berwujud ternyata sebegitu hebatnya membuat luka. Luka yang bahkan kupikir sudah pulih terkadang masih terasa nyeri. Mengapa ini bisa sangat menyakitkan?
Ah... Mungkin karena luka itu di baretkan oleh orang yang katanya memiliki asal muasal darah yang sama, yang membentuk sebuah hubungan bernama "Saudara". Orang yang tadinya memberikan seutas tali pertolongan atas nama hubungan itu kemudian dijadikannya senjata untuk menyerang. Menyerang di balik punggungku tanpa sadar, menghunus orang - orang yang sangat aku cintai tanpa memberi ruang untukku mengerti dimana letak kesalahanku. Dilukai pada jiwa yang masih teramat muda, membuatku cacat untuk bertumbuh. Saat itu aku terluka... sangat!
Namun, cacat bukan berarti lemah! Setiap luka yang tercipta menuntut ketegaran dalam proses mengobati, dengan tegar itu dijadikannya lebih kuat dari sebelumnya. Kehidupan memang penuh misteri, menerima segala yang terjadi adalah rangkaian garis yang harus dilalui meskipun didalamnya ada rasa perih atau terkadang masih nyeri. Begitu sih kata bijak yang aku punya, terdengar klise namun cukup kuat untuk membuatku bertahan.
Dan aku tau betul sobatku adalah orang yang tangguh dan aku berdoa diberinya kekuatan untuk melalui masa sulit ini karena nanti pasti ada pelangi yang indah dibalik badai yang besar.
Komentar
Posting Komentar