Open
Ada sebuah untaian kata terpampang pada sebuah kalender milik rekanan kerja, kata yang biasa terlihat itu kali ini menyita perhatian saya dan bunyinya seperti ini:
The mind is like a umbrella, It’s most useful when open -Walter Gropius-
Saya mengangguk – angguk saat membaca itu, memang benarlah ungkapan tersebut. Pikiran yang diibaratkan dengan payung akan sangat berguna ketika kita membukannya. Sangat berguna ketika kita berada di lingkungan terbuka kala didera derasnya air hujan atau teriknya matahari.
Tetapi saya berpikir bahwa payung yang terbuka tak bisa digunakan di tempat yang tertutup.
Membiarkannya terbuka bisa jadi menganggu dan terlalu egois untuk membiarkannya terbuka ketika berhadapan dengan banyak orang.
Jadi, poin yang saya ambil adalah penempatan.
Menempatkan sebuah pikiran sesuai dengan ruang lingkupnya sebab kita adalah seorang manusia yang anugerahi akal dan pikiran yang tak di miliki makhluk hidup lainnya. Kita diberi peluang untuk memilih yang tidak bisa dilakukan lainnya.
Berhubungan dengan pola pikir, saya agak terusik dengan slogan open minded yang begitu di gaungkan oleh sebagian orang ketika berada dalam ruang lingkup beragama. Kenapa saya mengambil topik agama? Karena Agama adalah alasan kita hidup di dunia ini. Suatu pegangan yang tak akan pernah salah untuk menuntun kita di alam yang begitu fana dan memabukkan ini.
Apa kita tak boleh bersikap open minded? Oh tentu saja tidak, kita memang harus open minded apalagi di era globalisasi seperti ini. Apalagi kita menjalani kehidupan yang berbeda dengan kehidupan Rasullulah saw saat itu. Maka cara melihat sisi dalam menjalani keislaman juga makin berkembang.
Namun, ketika saya mendengar pembicaraan banyak orang yang katanya ‘open minded’ itu berseliweran di dunia maya bahkan di kehidupan saya membuat saya mendapatkan poin yang rasanya tak bisa di terima oleh diri saya.
Poinnya adalah terlalu membiarkan logika manusia mengambil alih dalam aturan – aturan yang Allah buat itu beracun juga untuk peran kita sebagai seorang hamba. Iya…,kita adalah seorang hamba yang hanya perlu menaatinya dulu tanpa perlu alasan. Itu sebabnya agama disebut keyakinan, yakin itu berkaitan dengan rasa yang mungkin ada beberapa yang belum mampu diterima akal. Karena akal manusia memang terbatas bukan?
Dan kadang bersikap taat itu dianggap terlalu kaku dan tidak fleksibel dengan kehidupan.
Hahaha.....
Ya sudah manusia memang boleh berpikir semaunya tentang manusia lainnya kan ya...
Cuma saya juga tak peduli walau di anggap konservatif atau kaku. Toh, saya percaya bahwa ketika saya berusaha menaati dan berpegang dalam aturan-Nya. Saya percaya bahwa saya takkan tersesat.
Komentar
Posting Komentar